Jumat, 27 Februari 2015

Cara Menyeimbangkan Otak Kanan dan Otak Kiri


Latihan 1
Ned Hermann, seorang ahli dominasi otak, menyarankan jika kita seorang pemikir dengan otak kanan maka kita bisa melatih otak kiri dengan cara sebagai berikut:
  •  Pelajarilah cara kerja mesin yang sering kita gunakan
  •  Masukkan foto-foto kita pada album
  •  Usahakan tepat waktu setiap hari, aturlah pengeluaran pribadi kita
  •  Rangkailah rakitan model berdsarkan instruksi
  •  Bergabunglah dengan klub investasi
  • Atasilah masalah-masalah yang ada dan analisislah bagian-bagian utamanya
Jika kita adalah pemikir dominan otak kiri, maka kita bisa berusaha mengoptimalkan otak kanan dengan cara:
  • Usahakan untuk memahami perasaan binatang peiharaan kita
  • Temukan resep masakan dan praktikkanlah
  • Bermainlah dengan tanah liat dan temukan hakikatnya
  • Buatlah 500 foto tanpa menghawatirkan biayanya
  • Ciptakan logo pribadi
  • Kemudikan motor atau mobil ke mana saja tanpa merasa bersalah
  • Bermainlah dengan anak-anak dengan cara yang mereka inginkan
  • Sisihkan waktu jeda perasaan selama 10 menit setipa hari
  • Hidupkan musik yang disukai ketika kita ingin mendengarkannya
  • Ambillah “belokan” keliru dan telusurilah lingkungan yang baru

Latihan 2
Raymond Dart mengatakan bahwa kalau kita sering menggunakan dua anggota tubuh secara seimbang berarti kita telah menyeimbangkan penggunaan otak kiri dan otak kanan. Ia mengumukakan bahwa kordinasi dua sisi tubuh akan meningkatkan kesatuan dan keseimbangan penggunaan kedua belahan otak. Ini dapat dilakukan dengan latihan sederhana sbagai berikut:
  • Menyilang secara terbalik: bersedekaplah dan bersila dengan cara yang terbalik dari kebiasaan kita.
  • Gunakan tangan yang tidak sering kita gunakan
  • Menulislah dengan menggunakan tangan yang tidak biasa digunakan untuk menulis
  • Cobalah menulis atau menggambar dengan kedua tangan secara serempak
  • Cobalah menulis di depan cermin
  • Cobalah melakukan senam ringan dengan sentuhan silang

Latihan 3
Doug Hall dalam bukunya 3Metode Canggih Melejitkan Kreatiitas Bisnis memberikan saran-saran untuk memaksimalkan produktivitas otak kiri dan otak kanan, terkait denga penciptaan ide-ide kreatif.
Saran 1:
ungkapkanlah ide sesuai arah yang benar, jika Anda dominan otak kiri sebaiknya Anda tidak terlalu terkungkung oleh ide-ide lama. Lalu susun rencana secara terperinci untuk merealisasikan ide tersebut. Lebih awal, ujilah ide tersebut bahwa ide-ide itu relative baru.
Jika Anda dominan otak kanan, sebaiknya Anda memulai usaha kreatif dari gambaran menyeluruh dan imajinasi liar. Ide-ide besa mugkin bermunculan, tetapi Anda harus melanjutkan dengan menjelaskan atau menulis secara terperinci cara menjalankan ide Anda.
Saran 2:
cara mengumpulkan stimulasi, untuk dominan otak kiri: kumpulkan stimulasi atau segala sesuatu yang merangsang kerja otak Anda terkait dengan masalah Anda. Untuk dominan otak kanan: kumpulkan stimulasi yang tidak ada hubungannya dengan masalah Anda.

Latihan 4
Menurut Tony Buzan, latihan berikut dapat menyeimbangkan kerja kedua belahan otak adalah beristirahat dan jalan-jalan.
Latihan 5
Ubahlah lingkungan kerja atau lingkungan belajar
Lingkungan eksternal, yakni segala ransangan yang datang dari luar tubuh kita, memengaruh perkembangan otak secara terus menerus. Lingkungan eksternal dapat berlangsung secara fisik dan nonfisik.


http://homework-student.blogspot.com/2011/06/cara-menyeimbangkan-otak-kanan-dan-otak.html

Otak Kiri dan Otak Kanan


Otak kiri atau otak kanan, masing-masing sisi otak mengontrol berbagai jenis pemikiran yang berbeda. Sebagai tambahan, teori tersebut mengemukakan bahwa seseorang akan lebih dominan menggunakan satu bagian otak dibandingkan bagian yang lain. Misalnya, seseorang yang "berotak kiri" sering dikatakan lebih logis, analitis dan obyektif, sementara orang yang "berotak kanan" dikatakan lebih intuitif, bijaksana dan subyektif. 

Otak Kanan

Fungsi terbaik otak kanan digunakan pada tugas yang ekspresif dan kreatif. Beberapa kemampuan yang populer terkait dengan otak kanan meliputi:
  • Mengontrol Tubuh bagian kanan
  • Mengenali wajah
  • Mengekspresikan emosi
  • Musik dan selera seni
  • Membaca emosi
  • Warna
  • Gambar
  • Intuisi
  • Kreativitas
  • Penyatuan
  • Subyektifitas

Otak Kiri

Otak kiri dianggap mahir dalam tugas yang melibatkan logika, bahasa dan berpikir analitis. Otak kiri sering digambarkan lebih baik dalam:
  • Mengontrol Tubuh bagian Kiri
  • Bahasa (Berbicara)
  • Logika
  • Berpikir Kritis
  • Angka
  • Penalaran
  • Menulis
  • Menganalisa
  • Obyektifitas

http://www.pesona.co.id/sehat/kesehatan/selaraskan.otak.kanan.dan.otak.kiri/002/002/36

Kamis, 26 Februari 2015

Kecerdasan Majemuk (Multiple Inteligences)

Kecerdasan Majemuk adalah kecerdasan yang tidak hanya berdasarkan kemampuan logika atau bahasa saja, namun memiliki kecerdasan-kecerdasan lain selama ini tidak menjadi perhatian.  
Howard Gardner (1983)mengemukakan bahwa ada delapan jenis kecerdasan, yang terdiri dari aspek-aspek verbal-linguistik (verbal-linguistic Intelligence), kecerdasan logika matematika (logical mathematical intelligence), kecerdasan visual-spasial (spasial intelligence), kecerdasan gerak tubuh (bodily-kinesthetic intelligence), kecerdasan musical-berirama (musical-rythmic intelligence), kecerdasan antardiri (interpersonal intelligence), kecerdasan dalam-diri (interpersonal intelligence), dan kecerdasan alam-natural (naturalistic intelligence).

1. Inteligensi Bahasa (Linguistik)
Mengcakup kemampuan-kemampuan berpikir dengan kata-kata, seperti baik kemampuan untuk memahami dan merangkai kata dan kalimat baik lisan maupun tertulis. Karakteristiknya antara lain :
1.        Senang membaca buku atau apa saja, bercerita atau mendongeng.
2.        Senang berkomunikasi, berbicara, berdialog, berdiskusi, dan senang berbahasa asing.
3.        Pandai menghubungkan atau merangkai kata-kata tau kalimat baik lisan maupun tulisan.
4.        Pandai menafsirkan kata-kata tau paragraph baik secara lisan maupun tertulis.
5.        Senang mendengarkan music dan sebagainya dengan baik.
6.        Pandai mengingat dan menghafal.
7.        Humoris.
Mengasah bahasa
Mengajak anak bicara
- Membacakan cerita
- Bermain peran
- Merangkai cerita
- Berdiskusi

2. Inteligensi Logis-Matematis
Inteligensi logis-matematis adalah kemampuan berpikr dalam penalaran atau menghitung, seperti kemampuan menelaah masalah secara logis, ilmiah, dan matematis. Karaktaristiknya antara lain :
1.        Senang bereksperimen, bertanya, menyusun atau merangkai teka-teki.
2.        Senang dan pandai berhitung dan bermain angka.
3.        Senang mengorganisasikan sesuatu, menyusun scenario.
4.        Mampu berpikir logis baik induktif maupun deduktif.
5.        Senang silogisme.
6.        Senang berpikir abstraksi dan simbolis.
Mengasah logis-matematis
- Mengenal bentuk geometri
- Mengenal bilangan melalui bermain
- Menyelesaikan puzzle
- Pengenalan pola
- Eksperimen di alam

3. Inteligensi Visual Spasial
Inteligensi visual spasial, yaitu kemampuan berpikir dalam citra dan gambar. Seperti kemampuan untuk membayangkan bentuk suatu objek. Karakteristiknya antara lain :
1.        Senang merancang sketsa, gambar, desain grafik, table.
2.        Peka terhadap citra, warna, dan sebagainya.
3.        Pandai memvisualisasikan ide.
4.        Imaginasinya aktif.
5.        Mudah menemukan jalan dalam ruang.
6.        Mempunyai persepsi yang tepat dari berbagai sudut.
7.        Mengenal relasi benda-benda dalam ruang.
Mengasah kecerdasan visual-spasial
- Membayangkan
- Menggambar
- Membuat kerajinan tangan
- Mengatur dan merancang
- Bermain konstruktif atau bongkar pasang

4. Inteligensi musical
Inteligensi musical adalah kemampuan berpikir dengan nada, irama, dan melodi juga pada suara alam. Karakteristiknya antara lain :
1.        Pandai mengubah atau mencipta music.
2.        Senang dan pandai bernyanyi.
3.        Pandai mengoperasikan music serta menjaga ritme.
4.        Mudah menangkap music.
5.        Peka terhadap suara dan music.
Mengasah kecerdasan musical
- Bernyanyi atau mendengarkan lagu (music)
- Mengenal ritme dan melatih gerakan dengan irama
- Bersenandung
- Meniru suara-suara yang ada di alam

5. Inteligensi Kinestetik Tubuh
Inteligensi kinestetik tubuh, yaitu kemampuan yang berhubungan dengan gerakan tubuh termasuk gerakan motoric otak yang mengendalikan tubuh seperti kemampuan untuk mengendalikan danmenggunakan badan dengan mudah dan cekatan. Karakteristiknya antara lain:
1.        Senang menari, acting.
2.        Pandai dan aktif dalam olahraga tertentu.
3.        Mudah berekspresi dengan tubuh.
4.        Mampu memainkan mimic.
5.        Koordinasi dan fleksibilitas tubuh tinggi.
6.        Senang dan efektif berpikir sambil berjalan, berlari, dan berolah raga.
7.        Pandai merakit sesuatu menjadi suatu produk.
8.        Senang bergerak atau tidak bisa diam dalam waktu yang lama.
9.        Senang kegiatan di luar rumah.
Mengasah kecerdasan kinestetik tubuh
- Menari
- Bermain peran
- Drama
- Olahraga

6. Inteligensi Intrapersonal
Inteligensi intrapersonal adalah kemampuan berpikir untuk memahami diri sendiri, melakukan refleksi diri dan bermetakognisi. Karakteristiknya antara lain :
1.        Mampu menilai diri sendiri/introspeksi diri, bermeditasi.
2.        Mampu mencanangkan tujuan, menyusun cita-cita dan rencana hidup yang jelas.
3.        Berjiwa independent/bebas.
4.        Mudah berkonsentrasi.
5.        Keseimbangan diri.
6.        Senang mengekspresikan perasaan-perasaan yang berbeda.
7.        Sadar akan realitas spiritual.
Mengasah kecerdasan intrapersonal
- Membentuk citra diri yang positif 
- Menciptakan sarana untuk menuangkan isi hati
- Mengenali diri sendiri
- Memberi kesempatan anak mengerjakan tugas sendiri

7. Inteligensi Interpersonal (Sosial)
Inteligensi interpersonal adalah kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Karakteristiknya antara lain :
1.        Mampu berorganisasi, menjadi pemimpin dalam suatu organisasi.
2.        Mampu bersosialisasi, menjadi mediator, bermain dalam kelompok/klub, bekerja sama dalam tim.
3.        Senang permainan berkelompok daripada individual.
4.        Biasanya menjadi tempat mengadu orang lain.
5.        Senang berkomunikasi verbal dan nonverbal.
6.        Peka terhadap teman.
7.        Suka memberi feedback.
8.        Mudah mengenal dan membedakan perasaan dan pribadi orang lain.
Mengasah kecerdasan interpersonal
- Menumbuhkan sikap menghargai perbedaan
- Membiasakan memberi umpan balik
- Melakukan tugas dalam kelompok (dalam bentuk proyek)
- Memberi kesempatan anak bertanggung jawab
- Menumbuhkan sikap empati

8. Inteligensi Naturalis
Inteligensi naturalis adalah kemampuan untuk memahami gejala alam. Karakteristiknya antara lain :
1.        Senang terhadap flora dan fauna, bertani, berkebun, memelihara binatang, berinteraksi dengan binatang, berburu.
2.        Pandai melihat perubahan alam, meramal cuaca, meneliti tanaman.
3.        Senang kegiatan di alam terbuka.
Mengasah kecerdasan naturalis
- Mengamati binatang
- Mengamati tumbuhan
- Mengamati perubahan alam
- Mengamati hasil budaya


https://nananksynarahim.wordpress.com/2012/05/24/kecerdasan-majemuk-multiple-inteligences/


Rabu, 25 Februari 2015

Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosional (EQ)

Unsur-unsur Dalam Kecerdasan Emosi Seseorang
Goleman menyatakan bahwa unsur emosi merupakan faktor yang turut berperan dalam kehidupan seseorang termasuk seorang anak. Menurut Goleman, kecerdasan emosi mencakup unsur-unsur berikut:
1.      Kemampuan Seseorang Mengenali Emosinya Sendiri
Korteks atau otak rasional memungkinkan seseorang mengenali bermacam-macam emosi yang dialami. Kemampuan untuk mengenal bermacam-macam emosi berkembang secara bertahap. Awalnya, anak masih mencapur adukan emosi marah dengan kecewa menjadi satu. Secara bertahap, melalui interaksi dengan orang tua dan orang lain di sekelilingnya. Kemampuan anak untuk memahami perasaannya pun bertambah.
2.   Kemampuan Mengelola Suasana Hati
Pada usia dini, pengelolaan emosi masih banyak dipengaruhi oleh reflek yang dibawa sejak lahir. Seiring dengan bertambahnya usia rasa takut berikut pola emosi yang menyertai ketakutan yaitu rasa malu, kecanggungan, kekhawatiran, dan kecemasan, semakin bisa diatasinya karena anak menyadari bahwa tidak ada perlunya merasa takut. Pada gilirannya kemampuan anak dalam mengendalikan emosi ini akan berpengaruh terhadap cara-cara anak mengekspresikan perasaannya lewat kata – kata merupakan bagian vital dalam tahap perkembangan kemampuan untuk mengekspresikan perasaan secara tepat. 
3.     Kemampuan Memotivasi Diri Sendiri
Agar mampu mencapai tujuan, anak harus mampu memotivasi diri, artinya anak harus memiliki ketekunan. Usia 6 – 10 tahun, anak mulai melihat bahwa usaha hanyalah satu faktor saja dalam pencapaian suatu tujuan. Faktor lainnya adalah kemampuan swadaya. Sebagia besar anak dalam tahap ini melihat bahwa ada penyesuaian antara usaha dan hasil. Karenanya untuk mencapai sukses mereka harus bekerja keras. Usia antara 10 – 12 tahun, anak mulai lebih bisa memahami hubungan antara usaha dan kemampuan. Sejak saat ini anak sadar bahwa orang dengan kemampuan yang kurang harus berusaha lebih keras dan orang dengan kemampuan yang lebih besar hanya perlu mencurahkan usaha lebih sedikit. Kurang kuatnya motivasi, mempengaruhi anak selama masa pertumbuhan mereka.
4.      Kemampuan Mengendalikan Nafsu 
                Seorang anak sering kali sulit untuk mengendalikan nafsunya, baik berupa emosi maupun keinginan yang harus dipenuhi. Dalam hal ini anak menjadi merasa egois, dan apa yang ia inginkan harus dicapai atau didapatkannya. Oleh karena itu peran orang tua dalam mengendalikan nafsu anak harus lebih diperhatikan, karena apabila orang tua tidak memberikan pengarahan yang baik kepada anak, anak tersebut bisa menjadi liar dalam artian nakal yang sudah keluar dari batas wajar. Orang tua dapat memberikan pengertian dengan cara-cara yang mudah dipahami anak, contoh: mengajak anak ke suatu tempat anggota keluarga atau orang yang tidak mampu, dan berikan gambaran terhadap keluarga tersebut sehingga rasa empati anak dapat langsung tertuju kepada keluarga tersebut dan tidak lagi menggunakan cara-cara yang tidak seharusnya untuk mendapatkan sesuatu, sekaligus mengajarkan anak untuk saling berbagi terhadap sesama manusia.
5.      Kemampuan Membangun dan Mempertahankan Hubungan dengan Orang Lain 
            Agar terampil membina hubungan dengan orang lain, seseorang harus mampu mengenal dan mengelola emosinya. Salah satu seni yang harus dimiliki anak dalam membangun kemampuan membina hubungan dengan orang lain adalah kemampuan untuk mengendalikan emosi orang lain. Mengapresiasi emosi orang lain adalah kemampuan yang sama pentingnya, khususnya dalam mengembangkan keintiman dan memberi arti dari suatu hubungan. Lebih penting menjadi pendengar yang baik daripada menjadi pembicara yang pandai saat terjadi komunikasi emosional. Anak yang mempunyai kemampuan mengendalikan emosi orang lain, dapat membuat orang merasa senang, takut, segan, dan mau melakukan apa yang dia kehendaki. Sebelum mampu menangani emosi orang lain, dibutuhkan kematangan dan keterampilan emosional, yaitu manajemen diri dan empati. 
Perkembangan Emosi Anak Sesuai Tahapan Usia
1.      Usia Infant (0-2 Tahun)
Sejak lahir, seorang individu sudah memiliki kemampuan untuk merasakan dan memberi respon emosi dalam bentuk tertarik pada sesuatu, merasa tertekan dan merasa jijik. Bayi sudah bisa memberikan senyuman sosial sebagai bentuk ekspresi emosi, pada usia mulai 4-6 minggu. Emosi-emosi lain berkembang secara bertahap dam ditunjukkan dengan semakin banyaknya respon ketika anak berkembang seiring dengan waktu. Emosi marah, terkejut dan sedih mulai muncul pada usia 3-4 bulan, dan anak mula bisa merasakan takut pada usia antara 5-7 bulan. Rasa malu muncul pada usia 6-8 bulan, dan perasaan bersalah baru muncul pada usia anak 2 tahun. 
2.      Usia Prasekolah (2-6 Tahun)
Secara emosional, anak-anak prasekolah sudah bisa merasakan cinta dan mempunyai kemampuan untuk menjadi anak yang penuh kasih sayang, baik dan sangat menolong, dan pada saat bersamaan bisa juga sangat egois dan agresif. Ketika anak-anak prasekolah ini memiliki orang tua/pengasuh yang penuh kehangatan dan cinta serta merawat mereka dengan kasih sayang, mereka akan menjadikan cinta sebagai landasan dari dunia mereka, dan bisa diajari untuk peduli dan mau membantu atau menolong orang lain. Hal ini bisa dilakukan dengan memberi contoh, membacakan cerita, melalui gambar, menyanyi, menari, bermain drama, atau kegiatan-kegiatan kooperatif lainnya. 
3.      Usia Sekolah (6-12 Tahun)
Perkembangan emosi anak usia sekolah kurang lebih sama dengan anak usia prasekolah, namun karena kemampuan kognitif mereka sudah lebih berkembang, hal ini memungkinkan mereka untuk bisa mengekspresikan emosinya dengan lebih bervariasi, dan terkadang bisa mengekspresikan secara bersamaan dua bentuk emosi yang berbeda dan bahkan bertolak belakang.
Perkembangan kemampuan kognitif mereka juga membuat anak-anak usia antara 6-8 tahun sudah mengetahui bahwa orang lain bisa punya perasaan dan pikiran berbeda mengenai suatu hal. Pada usia 8-10 tahun mereka bisa mengira-ngira apa yang orang lain pikir atau rasakan. Dan pada usia 12 tahun keatas mereka sudah bisa menganalisa dan mengevaluasi cara mereka merasakan atau memikirkan sesuatu, begitu juga orang lain, dan mereka sudah mulai bisa merasakan bentuk empati yang lebih dalam. 
                            
Gangguan Emosional Pada Anak
            Terdapat beberapa gangguan emosional pada masa kanak – kanak, antara lain beberapa tipe masalah emosional pada anak, yaitu :
1)      Kebrutalan atau kebringasan
2)      Gangguan Kecemasan
3)      Takut Sekolah
4)      Kematangan Sekolah 
5)      Depresi pada masa Kanak – kanak

Bentuk-bentuk Ekspresi Emosi Anak
        1. Amarah
       2. Takut
       3. Cemburu
       4. Iri Hati
       5. Gembira
       6. Sedih
       7. Kasih Sayang

Kiat atau Cara untuk Mencerdaskan Emosi Anak
Apabila IQ diukur dengan melakukan evaluasi atas berbagai aspek intelektual seperti konsentrasi, daya nalar, daya abstraksi dan daya analisis sintesis. Seorang anak yang menampilkan kecerdasan emosi tinggi akan tampil yakin terhadap emosi yang dirasakan, mampu mengungkapkan perasaannya dengan tepat, mampu mengenali emosi orang lain dan menanggapinya secara baik. Kecerdasan emosi diawali dengan adanya pengenalan terhadap emosi, baik emosi yang dialami sendiri maupun yang dirasakan orang lain. Sebagai anak yang pemikirannya masih berpusat pada diri sendiri, kecerdasan emosi diawali dengan usaha untuk mengenali emosinya sendiri.
Proses ini akan banyak dibantu oleh orang tua yang memiliki empati, yaitu bersedia memahami emosi anak. Diatas telah dijelaskan bahwa emosi anak dipengaruhi oleh gaya orangtua dalam mengasuh anaknya. Ada empat gaya pengasuhan, yaitu mengabaikan emosi anak, menentang emosi, gaya serba boleh, dan  gaya pencerdasan pencerahan emosi anak. Untuk mengembangkan kecerdasan emosi anak ada beberapa langkah yang perlu dilakukan orang tua :
1.      Menyadari dan memahami emosi anak,
2.      Memandang emosi sebagai peluang untuk menjadi akrab dan menjadi sahabat anak,
3.      Mendengarkan dengan empati setiap masalah anak dan menjelaskan emosi anak,
4.      Membantu anak memahami emosinya, serta
5.      Menetapkan aturan dan membantu anak menyelesaikan masalah. 
Kegiatan bermain sejumlah anak juga diyakini oleh para ahli psikologi sebagai sarana efektif dan ampuh untuk meningkatkan kecerdasan emosional anak. Jika anak sering menampilkan emosi yang meledak – ledak, mudah marah, gampang curiga, suka mengancam, senang melakukan bentrok fisik, tenggelam dalam kesedihan, sering merasa bersalah serta cemas berkepanjangan, itu semua menunjukkan anak tersebut memiliki tingkat kecerdasan emosi (EQ) yang rendah. Hal ini perlu diperhatikan para orang tua, karena tingkat kemampuan (IQ) anak yang tinggi tidak ada artinya jika EQ-nya rendah.

Kesimpulan
Untuk mengembangkan kecerdasan emosi anak ada beberapa langkah yang perlu dilakukan orang tua :
1.      Menyadari dan memahami emosi anak,
2.      Memandang emosi sebagai peluang untuk menjadi akrab dan menjadi sahabat anak,
3.      Mendengarkan dengan empati setiap masalah anak dan menjelaskan emosi anak,
4.      Membantu anak memahami emosinya, serta
5.      Menetapkan aturan dan membantu anak menyelesaikan masalah.

http://novalia28.blogspot.com/2013/10/perkembangan-kecerdasan-emosional-eq_9.html