Unsur-unsur Dalam Kecerdasan Emosi Seseorang
Goleman menyatakan bahwa unsur emosi merupakan faktor yang turut berperan dalam kehidupan seseorang termasuk seorang anak. Menurut Goleman, kecerdasan emosi mencakup unsur-unsur berikut:
1. Kemampuan Seseorang Mengenali Emosinya Sendiri
Korteks atau otak rasional memungkinkan seseorang mengenali bermacam-macam emosi yang dialami. Kemampuan untuk mengenal bermacam-macam emosi berkembang secara bertahap. Awalnya, anak masih mencapur adukan emosi marah dengan kecewa menjadi satu. Secara bertahap, melalui interaksi dengan orang tua dan orang lain di sekelilingnya. Kemampuan anak untuk memahami perasaannya pun bertambah.
2. Kemampuan Mengelola Suasana Hati
Pada usia dini, pengelolaan emosi masih banyak dipengaruhi oleh reflek yang dibawa sejak lahir. Seiring dengan bertambahnya usia rasa takut berikut pola emosi yang menyertai ketakutan yaitu rasa malu, kecanggungan, kekhawatiran, dan kecemasan, semakin bisa diatasinya karena anak menyadari bahwa tidak ada perlunya merasa takut. Pada gilirannya kemampuan anak dalam mengendalikan emosi ini akan berpengaruh terhadap cara-cara anak mengekspresikan perasaannya lewat kata – kata merupakan bagian vital dalam tahap perkembangan kemampuan untuk mengekspresikan perasaan secara tepat.
3. Kemampuan Memotivasi Diri Sendiri
Agar mampu mencapai tujuan, anak harus mampu memotivasi diri, artinya anak harus memiliki ketekunan. Usia 6 – 10 tahun, anak mulai melihat bahwa usaha hanyalah satu faktor saja dalam pencapaian suatu tujuan. Faktor lainnya adalah kemampuan swadaya. Sebagia besar anak dalam tahap ini melihat bahwa ada penyesuaian antara usaha dan hasil. Karenanya untuk mencapai sukses mereka harus bekerja keras. Usia antara 10 – 12 tahun, anak mulai lebih bisa memahami hubungan antara usaha dan kemampuan. Sejak saat ini anak sadar bahwa orang dengan kemampuan yang kurang harus berusaha lebih keras dan orang dengan kemampuan yang lebih besar hanya perlu mencurahkan usaha lebih sedikit. Kurang kuatnya motivasi, mempengaruhi anak selama masa pertumbuhan mereka.
4. Kemampuan Mengendalikan Nafsu
Seorang anak sering kali sulit untuk mengendalikan nafsunya, baik berupa emosi maupun keinginan yang harus dipenuhi. Dalam hal ini anak menjadi merasa egois, dan apa yang ia inginkan harus dicapai atau didapatkannya. Oleh karena itu peran orang tua dalam mengendalikan nafsu anak harus lebih diperhatikan, karena apabila orang tua tidak memberikan pengarahan yang baik kepada anak, anak tersebut bisa menjadi liar dalam artian nakal yang sudah keluar dari batas wajar. Orang tua dapat memberikan pengertian dengan cara-cara yang mudah dipahami anak, contoh: mengajak anak ke suatu tempat anggota keluarga atau orang yang tidak mampu, dan berikan gambaran terhadap keluarga tersebut sehingga rasa empati anak dapat langsung tertuju kepada keluarga tersebut dan tidak lagi menggunakan cara-cara yang tidak seharusnya untuk mendapatkan sesuatu, sekaligus mengajarkan anak untuk saling berbagi terhadap sesama manusia.
5. Kemampuan Membangun dan Mempertahankan Hubungan dengan Orang Lain
Agar terampil membina hubungan dengan orang lain, seseorang harus mampu mengenal dan mengelola emosinya. Salah satu seni yang harus dimiliki anak dalam membangun kemampuan membina hubungan dengan orang lain adalah kemampuan untuk mengendalikan emosi orang lain. Mengapresiasi emosi orang lain adalah kemampuan yang sama pentingnya, khususnya dalam mengembangkan keintiman dan memberi arti dari suatu hubungan. Lebih penting menjadi pendengar yang baik daripada menjadi pembicara yang pandai saat terjadi komunikasi emosional. Anak yang mempunyai kemampuan mengendalikan emosi orang lain, dapat membuat orang merasa senang, takut, segan, dan mau melakukan apa yang dia kehendaki. Sebelum mampu menangani emosi orang lain, dibutuhkan kematangan dan keterampilan emosional, yaitu manajemen diri dan empati.
Perkembangan Emosi Anak Sesuai Tahapan Usia
1. Usia Infant (0-2 Tahun)
Sejak lahir, seorang individu sudah memiliki kemampuan untuk merasakan dan memberi respon emosi dalam bentuk tertarik pada sesuatu, merasa tertekan dan merasa jijik. Bayi sudah bisa memberikan senyuman sosial sebagai bentuk ekspresi emosi, pada usia mulai 4-6 minggu. Emosi-emosi lain berkembang secara bertahap dam ditunjukkan dengan semakin banyaknya respon ketika anak berkembang seiring dengan waktu. Emosi marah, terkejut dan sedih mulai muncul pada usia 3-4 bulan, dan anak mula bisa merasakan takut pada usia antara 5-7 bulan. Rasa malu muncul pada usia 6-8 bulan, dan perasaan bersalah baru muncul pada usia anak 2 tahun.
2. Usia Prasekolah (2-6 Tahun)
Secara emosional, anak-anak prasekolah sudah bisa merasakan cinta dan mempunyai kemampuan untuk menjadi anak yang penuh kasih sayang, baik dan sangat menolong, dan pada saat bersamaan bisa juga sangat egois dan agresif. Ketika anak-anak prasekolah ini memiliki orang tua/pengasuh yang penuh kehangatan dan cinta serta merawat mereka dengan kasih sayang, mereka akan menjadikan cinta sebagai landasan dari dunia mereka, dan bisa diajari untuk peduli dan mau membantu atau menolong orang lain. Hal ini bisa dilakukan dengan memberi contoh, membacakan cerita, melalui gambar, menyanyi, menari, bermain drama, atau kegiatan-kegiatan kooperatif lainnya.
3. Usia Sekolah (6-12 Tahun)
Perkembangan emosi anak usia sekolah kurang lebih sama dengan anak usia prasekolah, namun karena kemampuan kognitif mereka sudah lebih berkembang, hal ini memungkinkan mereka untuk bisa mengekspresikan emosinya dengan lebih bervariasi, dan terkadang bisa mengekspresikan secara bersamaan dua bentuk emosi yang berbeda dan bahkan bertolak belakang.
Perkembangan kemampuan kognitif mereka juga membuat anak-anak usia antara 6-8 tahun sudah mengetahui bahwa orang lain bisa punya perasaan dan pikiran berbeda mengenai suatu hal. Pada usia 8-10 tahun mereka bisa mengira-ngira apa yang orang lain pikir atau rasakan. Dan pada usia 12 tahun keatas mereka sudah bisa menganalisa dan mengevaluasi cara mereka merasakan atau memikirkan sesuatu, begitu juga orang lain, dan mereka sudah mulai bisa merasakan bentuk empati yang lebih dalam.
Gangguan Emosional Pada Anak
Terdapat beberapa gangguan emosional pada masa kanak – kanak, antara lain beberapa tipe masalah emosional pada anak, yaitu :
1) Kebrutalan atau kebringasan
2) Gangguan Kecemasan
3) Takut Sekolah
4) Kematangan Sekolah
5) Depresi pada masa Kanak – kanak
Bentuk-bentuk Ekspresi Emosi Anak
1. Amarah
2. Takut
3. Cemburu
4. Iri Hati
5. Gembira
6. Sedih
7. Kasih Sayang
Kiat atau Cara untuk Mencerdaskan Emosi Anak
Apabila IQ diukur dengan melakukan evaluasi atas berbagai aspek intelektual seperti konsentrasi, daya nalar, daya abstraksi dan daya analisis sintesis. Seorang anak yang menampilkan kecerdasan emosi tinggi akan tampil yakin terhadap emosi yang dirasakan, mampu mengungkapkan perasaannya dengan tepat, mampu mengenali emosi orang lain dan menanggapinya secara baik. Kecerdasan emosi diawali dengan adanya pengenalan terhadap emosi, baik emosi yang dialami sendiri maupun yang dirasakan orang lain. Sebagai anak yang pemikirannya masih berpusat pada diri sendiri, kecerdasan emosi diawali dengan usaha untuk mengenali emosinya sendiri.
Proses ini akan banyak dibantu oleh orang tua yang memiliki empati, yaitu bersedia memahami emosi anak. Diatas telah dijelaskan bahwa emosi anak dipengaruhi oleh gaya orangtua dalam mengasuh anaknya. Ada empat gaya pengasuhan, yaitu mengabaikan emosi anak, menentang emosi, gaya serba boleh, dan gaya pencerdasan pencerahan emosi anak. Untuk mengembangkan kecerdasan emosi anak ada beberapa langkah yang perlu dilakukan orang tua :
1. Menyadari dan memahami emosi anak,
2. Memandang emosi sebagai peluang untuk menjadi akrab dan menjadi sahabat anak,
3. Mendengarkan dengan empati setiap masalah anak dan menjelaskan emosi anak,
4. Membantu anak memahami emosinya, serta
5. Menetapkan aturan dan membantu anak menyelesaikan masalah.
Kegiatan bermain sejumlah anak juga diyakini oleh para ahli psikologi sebagai sarana efektif dan ampuh untuk meningkatkan kecerdasan emosional anak. Jika anak sering menampilkan emosi yang meledak – ledak, mudah marah, gampang curiga, suka mengancam, senang melakukan bentrok fisik, tenggelam dalam kesedihan, sering merasa bersalah serta cemas berkepanjangan, itu semua menunjukkan anak tersebut memiliki tingkat kecerdasan emosi (EQ) yang rendah. Hal ini perlu diperhatikan para orang tua, karena tingkat kemampuan (IQ) anak yang tinggi tidak ada artinya jika EQ-nya rendah.
Kesimpulan
Untuk mengembangkan kecerdasan emosi anak ada beberapa langkah yang perlu dilakukan orang tua :
1. Menyadari dan memahami emosi anak,
2. Memandang emosi sebagai peluang untuk menjadi akrab dan menjadi sahabat anak,
3. Mendengarkan dengan empati setiap masalah anak dan menjelaskan emosi anak,
4. Membantu anak memahami emosinya, serta
5. Menetapkan aturan dan membantu anak menyelesaikan masalah.
http://novalia28.blogspot.com/2013/10/perkembangan-kecerdasan-emosional-eq_9.html


Tidak ada komentar:
Posting Komentar