Kamis, 28 Mei 2015

GAYA BELAJAR KINESTETIK


Tipe Kinestetik adalah tipe gaya belajar yang cenderung mudah menerima dan mengolah informasi melalui serangkaian aktivitas yang menggerakkan sebagian / seluruh anggota tubuh dan mempraktekkan hal-hal yang dipelajari. Secara spesifik tipe gaya belajar ini dibagi lagi menjadi dua:

1.    Movement – Gerakan Badan

Mudah belajar dengan cara penyampaian melalui gerakan tubuh, berjalan-jalan, membolak-balik tubuh, bergoyang, terampil, dan cekatan.

2.     Touch – Gerakan Tangan

Mudah belajar dengan cara penyampaian melalui penggunaan jari, perabaan dan sentuhan tubuh. Kemampuan jari-jemarinya cekatan dan terampil sehingga mampu membuat kreasi tangan seperti clay dan desainer. Menari jenis tarian yang gemulai, menulis halus, dan hasil menggambarnya cukup teliti dan detil.

Ciri-ciri anak dengan tipe gaya belajar Kinestetik:

  • Menyukai kegiatan aktif baik sosial, kesenian, maupun olahraga. Sulit untuk duduk tenang, selalu ingin bergerak, dan memiliki koordinasi tubuh yang baik.
  • Gemar menyentuh semua yang dilihat dan ia kerap menggunakan gerakan/bahasa tubuh saat mengekspresikan diri/mengungkapkan emosinya saat itu.
  • Mencari perhatian lewat perhatian fisik seperti menyentuh orang lain dan suka mengerjakan sesuatu yang memungkinkan menggunakan tangannya secara aktif.
  • Jika ada mainan baru biasanya langsung ingin mencoba memainkannya.
  • Jika berkomunikasi sering menggunakan kata-kata yang mengandung aksi dan gemar memakai objek nyata untuk alat bantu belajar dan cenderung menggunakan jarinya untuk menunjuk kata-kata yang dibacanya.
  • Jika menghafal sesuatu biasanya sambil berjalan atau melihat objek secara langsung.
  • Mengunyah permen ketika mendengarkan penjelasan dari guru.
  • Menyukai buku dan film petualangan. Menyenangi metode bermain peran serta memiliki koordinasi mata dan tangan cukup baik sehingga mampu melakukan gerakan-gerakan dengan ritme cepat.

Kendala anak dengan tipe gaya belajar Kinestetik:
  • Cenderung tidak bisa diam dan sering dianggap nakal, pengganggu, dan usil.
  • Sulit mempelajari hal-hal yang abstrak (simbol matematika, peta, rumus-rumus, dan sebagainya).
  • Tak bisa belajar di sekolah-sekolah yang bergaya konvensional dimana guru menjelaskan dan anak duduk manis, tenang, dan diam.
  • Kapasitas energinya cukup tinggi sehingga bila tidak disalurkan dengan berbagai kegiatan fisik atau menggerakkan jari-jarinya maka akan berpengaruh terhadap konsentrasi belajarnya.

Cara Memaksimalkan Kemampuan Kinestetik
  • Sebagai langkah awal, anda hendaknya bersekolah  di sekolah yang menganut sistem active learning dimana siswa banyak terlibat dalam proses belajar. Hal ini agar kemampuannya berkembang secara optimal.
  • Belajar melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai alat peraga, misalnya eksperimen di laboratorium.
  • Untuk siswa yang memiliki kapasitas energi berlebih, sebaiknya diberikan aktivitas fisik di rumah sebelum bersekolah. Misalnya mengikuti olahraga, membantu pekerjaan rumah seperti mencuci mobil, memebrsihkan rumah, atau mengerjakan sesuatu dengan jari-jarinya.
  • Di kelas dapat ikut beraktivitas bergerak seperti membersihkan papan tulis, membantu guru untuk membagikan buku-buku pelajaran.

Minggu, 17 Mei 2015

KENAPA ANAK SUSAH MAKAN?


Ini niiii,, yang biasa dielu-elukan para Mama, ketika si Anak tidak mau makan. Mulailah dengan berbagai cara Mama lakukan agar makanan masuk dalam mulut si Anak, eehhh,, setelah makanan masuk malah di sembur-sembur...
Mama mulai ngomel, "Baby, kenapa gak mau makan. Mama sudah capek-capek buat'in makanan malah di sembur-sembur. Ayo makan sayang, biar cepat gede.." Akkk", ayo buka mulutnya.." mulai sedikit mau makan..
Emmm, kira-kira kenapa ya??

Penyebab
1. Kehilangan selera makan
2. Rasa ingin tau yang besar
3. Sedang tumbuh gigi
4. Sedang sakit
5. Mengkonsumsi camilan
6. Tidak nafsu makan
7. Makan manis sebelum jadwal makan
8. Cemas

Cara Mengatasinya
1. Terapi bermain dan jadikan saat makan yang menyenangkan
2. Mengajarkan makan yang baik dan teratur
3. Beri cemilan sehat dan menarik
4. Berikan reward
5. Suplemen atau vitamin penambah nafsu makan
6. Sajikan variasi makanan baru


Minggu, 10 Mei 2015

AYAH EDY


Grap it fast, limited cards...
call/wa : 081330759283
office : (031) 5981420


Jumat, 08 Mei 2015

GAYA PENGASUHAN ANAK (PARENTING)

Dimulai dari penelitan oleh Dr. Baumrind, University of California, Berkeley, yang bertujuan mencari strategi parenting yang paling memungkinkan untuk membentuk anak yang mandiri, cakap, dan penuh kasih, muncullah 4 gaya parenting.

Ada 2 elemen penting dalam gaya parenting, yaitu derajat respon (kehangatan, suport) orang tua dan tuntutan (kontrol, monitoring, dan disiplin). Orang tua, digolongkan menurut derajat suport dan tuntutannya pada anak menjadi  4 gaya: Otoriter, Cuek, Otoritatif, Permisif.

Orang tua cenderung memfokuskan pada kesalahan anak ataupun perilaku yang tidak disetujui orang tua, bukan pada perilaku anak yang positif. Anak dikritik, dimaki, atau dihukum, seringkali dengan kasar, jika tidak menurut aturan. Anak dari keluarga otoriter biasanya tidak belajar untuk berpikir mandiri dan tidak berusaha memahami mengapa orang tua menuntut perilaku tertentu.

Permisif. Orang tua permisif menyerahkan kontrol sepenuhnya pada anak. Sangat sedikit, atau hampir tidak ada, aturan yang diterapkan di rumah. Kalaupun mereka menetapkan aturan biasanya tidak diterapkan secara konsisten. Mereka tidak suka diikat rutinitas. Mereka ingin anak untuk merasa bebas. Orang tua tidak menciptakan batasan, disiplin, ataupun tuntutan bagi perilaku anak. Mereka cenderung menerima anak apa adanya dan tetap hangat pada anak yang nakal sekalipun.

Orang tua permisif memberikan pilihan sebanyak mungkin pada anak, bahkan ketika anak jelas-jelas tidak mampu membuat pilihan yang bertanggung jawab. Mereka menerima saja, perilaku baik atau buruk, dan tidak berkomentar apakah perilaku tersebut berguna atau tidak. Mungkin mereka merasa tidak mampu untuk mengubah perilaku anak, atau mereka memilih untuk tidak terlibat dan menghindari pertentangan.

Cuek. Orang tua cuek mengabaikan perasaan anak. Mereka menginginkan emosi negatif anak untuk segera berakhir. Biasanya mereka mengalihkan perhatian anak untuk menghentikan emosi anak. Mereka tidak berusaha menyelesaikan masalah dengan anak dan percaya saja bahwa problem akan pergi dengan sendirinya. Orang tua cuek lebih mengkuatirkan cara mengakhiri emosi daripada memahami emosi itu. Mereka cenderung mengecilkan masalah dan mengabaikannya sehingga bisa dilupakan.

Efek dari gaya pengasuhan cuek, anak belajar bahwa perasaan mereka salah, tidak tepat dan tidak penting. Anak percaya bahwa mereka sudah salah dari sononya ataupun salah desain. Mereka kesulitan mengatur emosinya. Anak-anak tersebut belajar untuk mengabaikan perasaannya dan tidak belajar untuk mengenali dan mengatasi emosinya.

Demokratis. Orang tua yang demokratis membantu anak untuk belajar bertanggung jawab dan memikirkan konsekuensi dari perbuatannya. Orang tua melakukannya dengan cara menerangkan ekspektasi mereka dengan jelas dan sesuai dengan usia perkembangan anak. Mereka juga mengambil waktu untuk menerangkan alasan tuntutan mereka. Lebih penting lagi, orang tua memonitor perilaku anak untuk memastikan bahwa anak mengikuti aturan dan harapan orang tua.

Orang tua melakukan semua itu tidak dengan kekerasan, namun dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Mereka sering kali “menangkap perilaku positif anak” dan mendorong perilaku yang baik, bukannya memfokuskan  pada perilaku buruk. Misalnya orang tua meminta anak untuk mengembalikan mainannya karena: “supaya orang lain tidak tersandung dan agar mainan tidak rusak terinjak.”

Orang tua juga memberikan pilihan pada anak:”Mau mandi dulu atau mengerjakan PR dulu?” Tanggung jawab dilatih sesuai usia anak, mulai dari tanggung jawab pribadi seperti mandi sendiri sampai tugas membantu keluarga.Orang tua membimbing perilaku anak dengan mengajar bukan dengan hukuman. Orang tua demokratis juga tegas, disiplin dan konsisten dalam mentaati aturan yang mereka terapkan.

Gaya pengasuhan mana yang anda terapkan selama ini? Mungkin anda berada di tengah-tengah. Pikirkan apa yang anda harapkan untuk dipelajari anak anda? Penelitian menunjukkan bahwa hasil yang paling positif bagi anak muncul ketika orang tua menerapkan gaya demokratis. Anak yang diasuh oleh orang tua permisif cenderung menjadi agresif, sedangkan anak orang tua otoriter cenderung penurut dan memiliki harga diri rendah. Anak orang tua cuek memiliki prestasi rendah dan minder. Tak ada satupun gaya pengasuhan yang jalan jika tidak dibarengi ikatan kasih sayang dengan anak anda.