Jumat, 11 September 2015
Selasa, 14 Juli 2015
DERMATOGLYPHICS
The secret of your child’s fingerprint?
The word dermatoglyphics comes from two Greek words (derma, skin and glyphe, carve) and refers to the friction ridge formations which appear on the palms of the hands and soles of the feet. Dermatoglyphics is the scientific study of fingerprints. The term was coined by Dr. Harold Cummins, the father of American fingerprint analysis, even though the process of fingerprint identification had already been used for several hundred years. All primates have ridged
Personality can be traced early in the mother’s womb, and it is reflected in fingerprints (dermatoglyphics). Since each person’s fingerprints are unique, we can understand one’s innate potential, personality, and preferences by analyzing dermatoglyphics. The study of fingerprints has become more common, therefore, some parents began to analyze their child”s (or baby’s) prints; with the intention to identify their potential early, and provide guidance accordingly to help expand their potential.
Dermatoglyphics refers to fingerprints, palm prints & foot patterns
Striae generally refers to stripes in the body. Our fingers and feet have the most stripes (lines). and the body lines up to hit the place is fingers and feet. Striae formation began at 19 weeks during pregnancy, when the brain and spinal cord began development separately. At this time, number of creases will gradually begin to form in the brain, and creases will be reflected on the fingerprints. The different regions of our brain are reflected by our 10 fingerprints. And dermatoglyphics is DNA reflected in the appearance of our body. It is unique and it will not change.
Dermatoglyphics will not change
The first time when skin stripes were recorded and documented was in 1823 by Czech doctor Pa Jinjie. At that time he had taken note that the palm is covered by a surface layer of wrinkles, which made up specific lines. Each fingerprint is unique; fingerprints on the right hand will not be the same as the ones on the left hand. While fingerprints will increase in size (from childhood to adulthood), it will not change, as long as one is not seriously injured. When there is no damage to the dermis, fingerprints will begin to show again along with healing of the wound.
http://dermatoglyphics.org/what-is-dermatoglyphics/
Senin, 08 Juni 2015
Sistem Pendidikan ala Teko dan Cangkir
Ayah dan Ibu, masih ingatkah pada saat kita masih bersekolah di SD dan diminta guru kita menggambar pemandangan? Apa bentuk pemandangan yang pada umumnya Anda gambar? Apakah gambar dua buah gunung, di tengahnya ada matahari bersinar, kemudian ada jalan lurus serta sawah di kiri dan kanannya. Yaah..lebih kurang seperti itu.
Namun yang unik, teman saya seorang dosen sebuah perguruan tinggi di Jakarta, suatu hari pernah mengulangi pertanyaan yang sama tentang menggambar pemandangan tadi pada para mahasiswanya. Luar biasa, jawaban dari pada mahasiswanya juga sama.
Fenomena apa gerangan yang terjadi pada anak-anak sekolah di negeri ini? Sehingga dari generasi ke generasi tidak ada pengembangan ide-ide baru dalam melukis pemandangan seperti ini?
Ini adalah bukti nyata bahwa sistem pendidikan kita tidak pernah berhasil untuk mengembangkan kreativitas anak.
Hal ini terjadi karena para guru menganut sistem pembelajaran yang disebut TEKO dan CANGKIR. Dalam mengajar guru menganggap dirinya adalah sebuah teko yang berisi penuh air sedangkan anak adalah cangkir kosong. Jadi tugas guru hanyalah menuangkan air dari teko ke cangkir, supaya cangkirnya terisi air. Dan tentu saja air yang ada di cangkir akan sama persis dengan yang di teko.
Jika kita ingin menghentikannya, maka segeralah ubah paradigma guru dan orangtua. Anak bukanlah cangkir melainkan kayu bakar yang siap dibakar dan menyala menjadi api yang berkobar-kobar. Dan guru bukanlah teko melainkan korek api yang memercikkan api semangat pada anak untuk bebas berkreasi. Minyaknya adalah motivasi yang harus terus menerus disiramkan oleh guru pada anak-anak didiknya supaya api semangat mereka tetap menyala dan berkobar-kobar. Mari kita bebaskan anak-anak kita untuk berbeda, berkreasi dan tampil dengan jalan pikiran serta imajinasinya sendiri. Agar anak-anak kita kelak dapat tumbuh sebagai generasi yang penuh kreasi denganpenciptaan-penciptaan yang berkelas dunia, tidak seperti kita para orangtuanya yang hanya bisa menjadi pembeli hasil ciptaan produk-produk dari negara lain, dan bangga pula dengan kondisi seperti ini.
#AYAH EDY PUNYA CERITA by Ayah Edy
Kamis, 28 Mei 2015
GAYA BELAJAR KINESTETIK
Tipe Kinestetik adalah tipe gaya belajar yang cenderung mudah menerima dan mengolah informasi melalui serangkaian aktivitas yang menggerakkan sebagian / seluruh anggota tubuh dan mempraktekkan hal-hal yang dipelajari. Secara spesifik tipe gaya belajar ini dibagi lagi menjadi dua:
1. Movement – Gerakan Badan
Mudah belajar dengan cara penyampaian melalui gerakan tubuh, berjalan-jalan, membolak-balik tubuh, bergoyang, terampil, dan cekatan.
2. Touch – Gerakan Tangan
Mudah belajar dengan cara penyampaian melalui penggunaan jari, perabaan dan sentuhan tubuh. Kemampuan jari-jemarinya cekatan dan terampil sehingga mampu membuat kreasi tangan seperti clay dan desainer. Menari jenis tarian yang gemulai, menulis halus, dan hasil menggambarnya cukup teliti dan detil.
Ciri-ciri anak dengan tipe gaya belajar Kinestetik:
- Menyukai kegiatan aktif baik sosial, kesenian, maupun olahraga. Sulit untuk duduk tenang, selalu ingin bergerak, dan memiliki koordinasi tubuh yang baik.
- Gemar menyentuh semua yang dilihat dan ia kerap menggunakan gerakan/bahasa tubuh saat mengekspresikan diri/mengungkapkan emosinya saat itu.
- Mencari perhatian lewat perhatian fisik seperti menyentuh orang lain dan suka mengerjakan sesuatu yang memungkinkan menggunakan tangannya secara aktif.
- Jika ada mainan baru biasanya langsung ingin mencoba memainkannya.
- Jika berkomunikasi sering menggunakan kata-kata yang mengandung aksi dan gemar memakai objek nyata untuk alat bantu belajar dan cenderung menggunakan jarinya untuk menunjuk kata-kata yang dibacanya.
- Jika menghafal sesuatu biasanya sambil berjalan atau melihat objek secara langsung.
- Mengunyah permen ketika mendengarkan penjelasan dari guru.
- Menyukai buku dan film petualangan. Menyenangi metode bermain peran serta memiliki koordinasi mata dan tangan cukup baik sehingga mampu melakukan gerakan-gerakan dengan ritme cepat.
Kendala anak dengan tipe gaya belajar Kinestetik:
- Cenderung tidak bisa diam dan sering dianggap nakal, pengganggu, dan usil.
- Sulit mempelajari hal-hal yang abstrak (simbol matematika, peta, rumus-rumus, dan sebagainya).
- Tak bisa belajar di sekolah-sekolah yang bergaya konvensional dimana guru menjelaskan dan anak duduk manis, tenang, dan diam.
- Kapasitas energinya cukup tinggi sehingga bila tidak disalurkan dengan berbagai kegiatan fisik atau menggerakkan jari-jarinya maka akan berpengaruh terhadap konsentrasi belajarnya.
Cara Memaksimalkan Kemampuan Kinestetik
- Sebagai langkah awal, anda hendaknya bersekolah di sekolah yang menganut sistem active learning dimana siswa banyak terlibat dalam proses belajar. Hal ini agar kemampuannya berkembang secara optimal.
- Belajar melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai alat peraga, misalnya eksperimen di laboratorium.
- Untuk siswa yang memiliki kapasitas energi berlebih, sebaiknya diberikan aktivitas fisik di rumah sebelum bersekolah. Misalnya mengikuti olahraga, membantu pekerjaan rumah seperti mencuci mobil, memebrsihkan rumah, atau mengerjakan sesuatu dengan jari-jarinya.
- Di kelas dapat ikut beraktivitas bergerak seperti membersihkan papan tulis, membantu guru untuk membagikan buku-buku pelajaran.
Minggu, 17 Mei 2015
KENAPA ANAK SUSAH MAKAN?
Ini niiii,, yang biasa dielu-elukan para Mama, ketika si Anak tidak mau makan. Mulailah dengan berbagai cara Mama lakukan agar makanan masuk dalam mulut si Anak, eehhh,, setelah makanan masuk malah di sembur-sembur...
Mama mulai ngomel, "Baby, kenapa gak mau makan. Mama sudah capek-capek buat'in makanan malah di sembur-sembur. Ayo makan sayang, biar cepat gede.." Akkk", ayo buka mulutnya.." mulai sedikit mau makan..
Emmm, kira-kira kenapa ya??
Penyebab
1. Kehilangan selera makan
2. Rasa ingin tau yang besar
3. Sedang tumbuh gigi
4. Sedang sakit
5. Mengkonsumsi camilan
6. Tidak nafsu makan
7. Makan manis sebelum jadwal makan
8. Cemas
Cara Mengatasinya
1. Terapi bermain dan jadikan saat makan yang menyenangkan
2. Mengajarkan makan yang baik dan teratur
3. Beri cemilan sehat dan menarik
4. Berikan reward
5. Suplemen atau vitamin penambah nafsu makan
6. Sajikan variasi makanan baru
Minggu, 10 Mei 2015
Jumat, 08 Mei 2015
GAYA PENGASUHAN ANAK (PARENTING)
Dimulai dari penelitan oleh Dr. Baumrind, University of California, Berkeley, yang bertujuan mencari strategi parenting yang paling memungkinkan untuk membentuk anak yang mandiri, cakap, dan penuh kasih, muncullah 4 gaya parenting.
Ada 2 elemen penting dalam gaya parenting, yaitu derajat respon (kehangatan, suport) orang tua dan tuntutan (kontrol, monitoring, dan disiplin). Orang tua, digolongkan menurut derajat suport dan tuntutannya pada anak menjadi 4 gaya: Otoriter, Cuek, Otoritatif, Permisif.
Orang tua cenderung memfokuskan pada kesalahan anak ataupun perilaku yang tidak disetujui orang tua, bukan pada perilaku anak yang positif. Anak dikritik, dimaki, atau dihukum, seringkali dengan kasar, jika tidak menurut aturan. Anak dari keluarga otoriter biasanya tidak belajar untuk berpikir mandiri dan tidak berusaha memahami mengapa orang tua menuntut perilaku tertentu.
Permisif. Orang tua permisif menyerahkan kontrol sepenuhnya pada anak. Sangat sedikit, atau hampir tidak ada, aturan yang diterapkan di rumah. Kalaupun mereka menetapkan aturan biasanya tidak diterapkan secara konsisten. Mereka tidak suka diikat rutinitas. Mereka ingin anak untuk merasa bebas. Orang tua tidak menciptakan batasan, disiplin, ataupun tuntutan bagi perilaku anak. Mereka cenderung menerima anak apa adanya dan tetap hangat pada anak yang nakal sekalipun.
Orang tua permisif memberikan pilihan sebanyak mungkin pada anak, bahkan ketika anak jelas-jelas tidak mampu membuat pilihan yang bertanggung jawab. Mereka menerima saja, perilaku baik atau buruk, dan tidak berkomentar apakah perilaku tersebut berguna atau tidak. Mungkin mereka merasa tidak mampu untuk mengubah perilaku anak, atau mereka memilih untuk tidak terlibat dan menghindari pertentangan.
Cuek. Orang tua cuek mengabaikan perasaan anak. Mereka menginginkan emosi negatif anak untuk segera berakhir. Biasanya mereka mengalihkan perhatian anak untuk menghentikan emosi anak. Mereka tidak berusaha menyelesaikan masalah dengan anak dan percaya saja bahwa problem akan pergi dengan sendirinya. Orang tua cuek lebih mengkuatirkan cara mengakhiri emosi daripada memahami emosi itu. Mereka cenderung mengecilkan masalah dan mengabaikannya sehingga bisa dilupakan.
Efek dari gaya pengasuhan cuek, anak belajar bahwa perasaan mereka salah, tidak tepat dan tidak penting. Anak percaya bahwa mereka sudah salah dari sononya ataupun salah desain. Mereka kesulitan mengatur emosinya. Anak-anak tersebut belajar untuk mengabaikan perasaannya dan tidak belajar untuk mengenali dan mengatasi emosinya.
Demokratis. Orang tua yang demokratis membantu anak untuk belajar bertanggung jawab dan memikirkan konsekuensi dari perbuatannya. Orang tua melakukannya dengan cara menerangkan ekspektasi mereka dengan jelas dan sesuai dengan usia perkembangan anak. Mereka juga mengambil waktu untuk menerangkan alasan tuntutan mereka. Lebih penting lagi, orang tua memonitor perilaku anak untuk memastikan bahwa anak mengikuti aturan dan harapan orang tua.
Orang tua melakukan semua itu tidak dengan kekerasan, namun dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Mereka sering kali “menangkap perilaku positif anak” dan mendorong perilaku yang baik, bukannya memfokuskan pada perilaku buruk. Misalnya orang tua meminta anak untuk mengembalikan mainannya karena: “supaya orang lain tidak tersandung dan agar mainan tidak rusak terinjak.”
Orang tua juga memberikan pilihan pada anak:”Mau mandi dulu atau mengerjakan PR dulu?” Tanggung jawab dilatih sesuai usia anak, mulai dari tanggung jawab pribadi seperti mandi sendiri sampai tugas membantu keluarga.Orang tua membimbing perilaku anak dengan mengajar bukan dengan hukuman. Orang tua demokratis juga tegas, disiplin dan konsisten dalam mentaati aturan yang mereka terapkan.
Gaya pengasuhan mana yang anda terapkan selama ini? Mungkin anda berada di tengah-tengah. Pikirkan apa yang anda harapkan untuk dipelajari anak anda? Penelitian menunjukkan bahwa hasil yang paling positif bagi anak muncul ketika orang tua menerapkan gaya demokratis. Anak yang diasuh oleh orang tua permisif cenderung menjadi agresif, sedangkan anak orang tua otoriter cenderung penurut dan memiliki harga diri rendah. Anak orang tua cuek memiliki prestasi rendah dan minder. Tak ada satupun gaya pengasuhan yang jalan jika tidak dibarengi ikatan kasih sayang dengan anak anda.
Selasa, 21 April 2015
Memperkenalkan Anak dengan Gadget
Gadget, mempunyai pengaruh yang besar pada perkembangan anak-anak zaman sekarang. Bagi anda yang menerapkan aturan bijak pada anak dapat berpengaruh positif sebagai media pembelajaran yang menyenangkan sedangkan di lain sisi penggunaan yang terlalu sering dan membuat anak anda ketergantungan sehingga hanya menginginkan bermain dengan gadget saja akan membuatnya menjadi anak yang anti sosial, cenderung tertutup dan tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Dan waktu yang tepat memperkenalkan anak dengan gadget pada usia 5 tahun.
Kenapa Waktu yang tepat penggunaan Gadget pada anak usia 5 tahun
- pada usia ini anak dapat dikenalkan dengan warna, bentuk, dan suara. Dan dapat mengedukasi anak, dengan pendampingan orang tua.
- Perkembangan otak anak sudah optimal apabila diberikan rangksangan sensorik secara langsung.
Berikut merupakan dampak negatif yang biasa langsung terjadi pada anak akibat pengaruh gadget:
1. Kemajuan teknologi berpotensi membuat anak cepat puas dengan pengetahuan yang diperolehnya sehingga menganggap bahwa apa yang dibacanya di internet adalah pengetahuan yang terlengkap dan final
2. Kemajuan teknologi membawa banyak kemudahan, maka generasi mendatang berpotensi untuk menjadi generasi yang tidak tahan dengan kesulitan
3. Kemajuan teknologi juga berpotensi mendorong anak untuk menjalin relasi secara dangkal
4. Mengalami penurunan konsentrasi
5. Mempengaruhi kemampuan menganalisa permasalahan
6. Malas menulis dan membaca
7. Penurunan dalam kemampuan bersosialisasi Ekternal dan internal
1. Kemajuan teknologi berpotensi membuat anak cepat puas dengan pengetahuan yang diperolehnya sehingga menganggap bahwa apa yang dibacanya di internet adalah pengetahuan yang terlengkap dan final
2. Kemajuan teknologi membawa banyak kemudahan, maka generasi mendatang berpotensi untuk menjadi generasi yang tidak tahan dengan kesulitan
3. Kemajuan teknologi juga berpotensi mendorong anak untuk menjalin relasi secara dangkal
4. Mengalami penurunan konsentrasi
5. Mempengaruhi kemampuan menganalisa permasalahan
6. Malas menulis dan membaca
7. Penurunan dalam kemampuan bersosialisasi Ekternal dan internal
Senin, 20 April 2015
Rabu, 15 April 2015
10 Tips Meningkatkan Kreativitas Anak
1. Tumbuhkan rasa percaya diri anak
2. Biarkan anak melakukan eksplorasi
3. Biarkan anak berimajinasi (Imajinasi dapat dilatih juga dengan cara memberikan kegiatan menggambar, mengarang cerita, atau bermain role play. Role play adalah permainan berpura-pura jadi orang lain atau mempraktekan kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari, misalnya main dokter-dokteran, main masak-masakan, main sekolah-sekolahan, dll.)
4. Lebih banyak memberi saran daripada larangan
5. Berikan kegiatan yang merangsang kreativitas (Bermain musik, menggambar, membuat kerajinan tangan serta kegiatan ekstra kurikuler seperti drama dapat merangsang kreativitas.)
6. Berikan waktu bermain yang cukup
7. Cegah stres pada anak (Jangan terlalu memaksakan jadwal belajar dan les yang ketat.)
8. Berikan kesempatan anak untuk berpikir sendiri (Anak yang selalu diberikan solusi tidak akan terbiasa untuk berpikir sendiri. )
9. Jangan memarahi anak bila melakukan kesalahan (Anak yang selalu dimarahi akan merasa takut untuk melakukan kesalahan. Padahal, kreatvitas butuh sikap berani mengambil resiko.)
10. Ciptakan suasana keluarga yang penuh kasih sayang.
http://id.theasianparent.com/10-cara-meningkatkan-kreativitas-anak/
2. Biarkan anak melakukan eksplorasi
3. Biarkan anak berimajinasi (Imajinasi dapat dilatih juga dengan cara memberikan kegiatan menggambar, mengarang cerita, atau bermain role play. Role play adalah permainan berpura-pura jadi orang lain atau mempraktekan kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari, misalnya main dokter-dokteran, main masak-masakan, main sekolah-sekolahan, dll.)
4. Lebih banyak memberi saran daripada larangan
5. Berikan kegiatan yang merangsang kreativitas (Bermain musik, menggambar, membuat kerajinan tangan serta kegiatan ekstra kurikuler seperti drama dapat merangsang kreativitas.)
6. Berikan waktu bermain yang cukup
7. Cegah stres pada anak (Jangan terlalu memaksakan jadwal belajar dan les yang ketat.)
8. Berikan kesempatan anak untuk berpikir sendiri (Anak yang selalu diberikan solusi tidak akan terbiasa untuk berpikir sendiri. )
9. Jangan memarahi anak bila melakukan kesalahan (Anak yang selalu dimarahi akan merasa takut untuk melakukan kesalahan. Padahal, kreatvitas butuh sikap berani mengambil resiko.)
10. Ciptakan suasana keluarga yang penuh kasih sayang.
http://id.theasianparent.com/10-cara-meningkatkan-kreativitas-anak/
Senin, 13 April 2015
HIPERAKTIF
Hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal yang disebabkan disfungsi neurologia dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Begitu pula anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian.
Gangguan ini disebabkan kerusakan kecil pada system saraf pusat dan otak sehingga rentang konsentrasi penderita menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan. Penyebab lainnya dikarenakan temperamen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak, serta epilepsi.
Ciri-ciri Anak Hiperaktif
1. Tidak fokus,
Anak dengan gangguan hiperaktif tidak bisa konsentrasi lebih dari lima menit. Tidak memiliki focus yang jelas dan melakukan sesuatu tanpa tujuan. Cenderung tidak mampu melakukan sosialisasi dengan baik.
2. Sulit untuk dikendalikan
Anak hiperaktif memang selalu bergerak, nakal. Keinginannya harus segera dipenuhi. Tidak bisa diam dalam waktu lama dan mudah teralihkan.
3. Impulsif,
Melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa dipikir lebih dahulu. Selalu ingin meraih dan memegang apapun yang ada di depannya. Gangguan perilaku ini biasanya terjadi pada anak usia prasekolah dasar, atau sebelum mereka berusia 7tahun.
4. Menentang,
Umumnya memiliki sikap penentang/pembangkang/tidak mau dinasehati. Penolakannya ditunjukkan dengan sikap cuek.
5. Destruktif,
Destruksif atau merusak. Merusak mainan yang dimainkannya dan cenderung menghancurkan sangat besar.
6. Tidak kenal lelah,
Sering tidak menunjukkan sikap lelah, hal inilah yang sering kali membuat orang tua kewalahan dan tidak sanggup meladeni perilakunya.
7. Tidak sabar dan usil,
Ketika bermain tidak mau menunggu giliran,tetapi langsung merebut. Sering pula mengusili teman-temannya tanpa alas an yang jelas.
8. Intelektualitas rendah,
Sering kali anak dengan gangguan hiperaktif memiliki intelektualitas di bawah rata-rata anak normal. Mungkin dikarenakan secara psikologis mentalnya sudah terganggu sehingga ia tidak bisa menunjukkan kemampuan kreatifnya.
Sifat atau sikap anak-anak hiperaktif
- Anak-anak hiperaktif biasanya akan bersikap degil.
- Mereka suka membantah.
- Suka melanggar peraturan terutama di sekolah.
- Lalai dan tidak memberi tumpuan.
- Sering merasa tidak puashati.
- Sering tertekan.
- Menghadapi masalah dalam pelajaran.
- Menghadapi masalah dalam hubungan sosial.
- Cepat takut dan risau.
- Suka berpeluh dan mengalami masalah sakit perut atau cirit birit.
Mendeteksi Anak hiperaktif
Sebelum kita mengklaim anak-anak hiperaktif, sebaiknya langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
PERIKSALAH.
Tak semua tingkah laku yang kelewatan dapat digolongkan sebagai hiperaktif. Karena itu, perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktif. Yang harus dilakukan adalah mengkonsultasikan persoalan yang diderita anaknya kepada ahli terapi psikologi anak. Ini penting karena gangguan hiperaktivitas bisa berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik anak, serta kemampuannya dalam menyerap pelajaran dan bersosialisasi. Tujuannya untuk mendapatkan petunjuk dari orang yang tepat tentang apa saja yang bisa dilakukan di rumah. Selain itu juga berguna untuk menghapus rasa bersalah dan memperbaiki sikap
agar tak terlalu menuntut anak secara berlebihan. Di sini biasanya para ahli akan memberikan obat yang sesuai atau sebuah terapi.
PAHAMILAH.
Untuk bisa menangani anak hiperatif, ada baiknya pula jika anggota keluarga mengikuti support group dan parenting skill-training. Tujuannya agar bisa lebih memahami sikap dan perilaku anak, serta apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual) maupun fisiologis. Jika si anak merasa bahwa orang tua dan anggota keluarga lain bisa mengerti keinginannya, perasaannya, frustasinya, maka kondisi ini akan meningkatkan kemungkinan anak bisa tumbuh seperti anak-anak normal lainnya.
LATIH kefokusannya.
Jangan menekannya, terima kaadaannya. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Jika anak tidak bisa diam di satu tempat, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Mintalah agar anak menatap mata Anda ketika berbicara atau diajak berbicara. Berilah arahan dengan nada yang lembuat, tanpa harus membenatak. Arahan ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Harus dilakukan dengan konsisten. Jika meminta dia melakukan sesuatu, jangan memberikannya ancaman tapi pengertian, yang membuatnya tahu kenapa harus melakukan itu.
TELATENLAH.
Jika dia telah betah untuk duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf. Latihan ini juga bertujuan untuk memperbaiki cara menulis angka yang tidak baik dan salah. Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Latihan ini sangat berguna untuk melatih motorik halusnya. Bisa pula mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka dibawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka 0 dengan benar. Jika empat fase di atas telah dapat dilewati, bersyukurlah, pasti keaktifan anak sudah dapat difokuskan untuk perkembangan jiwanya. Ini juga akan sangat membantu dalam menjaganya. Dan kini, memasuki tahap berikutnya, bagaimana harus bekerjasama dengannya.
BANGKITKAN kepercayaan dirinya.
Jika mampu, ini juga bisa dipelajari, gunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu dengan benar, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.
Di samping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Misalnya, dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orangtua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya. Dalam tahap ini, usahakan emosi berada di titik stabil, sehingga dia tahu, penguat positif itu tidak datang atas kendali amarah. Ingat, anak hiperaktif rata-rata juga sangat sensitif.
KENALI arah minatnya.
Jika dia bergerak terus, jangan panik, ikutkan saja, dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifannya. Jangan dilarang semuanya, nanti anak akan prustasi. Yang paling penting adalah mengenali bakat atau kecenderungan perhatiannya secara dini. Dengan begitu, dapat memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya. Misalnya, mengikutkan anak pada klub sepakbola di bawah umur atau berenang, agar anak belajar bergaul dan disiplin. Anak juga belajar bersosial karena ia harus mengikuti tatacara kelompoknya.
MINTA dia bicara.
Ini sangat penting diterapkan. Ingat, anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri. Karena itu, bantulah anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai-nilai apa saja yang dapat diterima kelompoknya. Misalnya melakukan aktivitas bersama, sehingga mengajarkan anak bagaimana bersosialisasi dengan teman dan lingkungan. Ini memang butuh kesabaran dan kelembutan.
Mengembangkan ketrampilan berkomunikasi si kecil memang butuh waktu. Terlebih dulu ia harus dilengkapi dengan sikap menghargai, tenggang rasa, saling memahami, dan berempati, ujar Susan Barron, Ph.D, Direktur Pusat Perkembangan dan Pembelajaran Mount Sinai Medical Center di New York dalam salah satu artikelnya di majalah Child.
SIAP bahu-membahu.
Jika dia telah mampu mengungkapkan pikirannya, segera membantunya mewujudkan apa yang dia inginkan. Jangan ragu. Bila perlu, bekerja samalah dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya. Mintalah guru tak perlu membentak, menganggap anak nakal, atau mengucilkan, karena akan berdampak lebih buruk bagi kesehatan mentalnya. Kerjasama ini juga penting karena anak sulit berkosentrasi dan menyerap pelajaran dengan baik. Dibutuhkan kesabaran dan bimbingan dari guru bagi anak hiperaktif.
Sesungguhnya anak hiperaktif tidak berbahaya, hanya saja butuh SENTUHAN dan PERHATIAN LEBIH. Jika itu dia dapatkan, anak akan berubah jadi JENIUS yang bukan tak mungkin, akan mengubah dunia.
Penanganan untuk anak-anak Hiperaktif
Hal utama yang perlu diperhatikan sebelum melakukan penanganan adalah menerima dan memahami kondisi anak, ini didasari karena keterbatasan dan gangguan yang dialami. Selain itu kerja sama tim yang terdiri dari dokter, dokter spesialis, psikolog, psikiater, guru dan orang tua sangat diperlukan dalam proses identifikasi.
Pada beberapa kasus, anak-anak dengan gangguan ini membutuhkan terapi, seperti terapi remedial, terapi integrasi sensori maupun terapi yang lain yang sesuai dengan kebutuhannya.
Stimulan
Sebagian besar anak-anak penderita hiperaktif mendapat perawatan medis berupa obat-obatan stimulan. Stimulan dapat dipercaya dapat meningkatkan produksi dopamine dan norepinephrine yaitu neurotransmitter otak yang penting untuk kemampuan memusatkan perhatian dan mengontrol perilaku.
Mengkonsumsi stimulant, anak akan mengikuti terapi dan modifikasi perilaku. Setelah terapi dan modifikasi perilaku membuahkan hasil, dosis stimulan akan dikurangi secara bertahap sampai akhirnya lepas obat sama sekali.
Diet modifikasi
Anak-anak penderita hiperaktif melaksanakan diet tanpa makanan pencetus energi. Yaitu makanan yang mengandung salisilat alami, seperti jeruk, apel, apricot, beri dan anggur. Juga makanan yang mengandung zat tambahan buatan, seperti pengawet, pemanis, pewarna, penyedap. Jelas diet ini memerlukan perhatian khusus saat orang tua menyajikan makanan.
Setelah menjalankan diet ketat selama beberpa lama, makanan yang dicurigai sebagai pencetus alergi dapat diberikan kembali satu persatu ke dalam menu. Jika muncul perubahan tingkah laku pada anak, misal menjadi hiperaktif kembali, makanan tersebut jangan diberikan. Pemberian suplemen vitamin dan mineral akan sangat membantu kemajuan anak.
Rawatan Akupunktur dan Herba
Menurut kajian, mengkonsumsi obat secara tidak teratur dan keterlaluan semasa hamil boleh menyumbang kepada permasalahan ini. Hasil kajian menunjukkan anak-anak ini mempunyai tahap glukosa asli yang rendah berbanding anak-anak normal. Rawatan ini mengambil masa selama 1 jam bagi setiap sesi dan menggunakan obat herba yang berbentuk serbuk halus.Tempoh atau jangka masa rawatan yang perlu bergantung kepada setiap anak-anak penderita hiperaktif. Namun apa yang dapat di lihat pada setiap kali sesi akupunktur ialah perubahan kebiasaan anak-anak hiperaktif untuk mengecapi hidup yang lebih bermakna.
http://sofia-salma.blogspot.com/2009/03/hiperaktif-dan-solusinya.html
Minggu, 12 April 2015
Talents Spectrum Full Report
Full Report
Berisi total 14 halaman, membahas:
Berisi total 14 halaman, membahas:
- Personal Drive
- Basic Motivasion
- Charater Traits
- Brain Dominance
- Thinking Style
- Learning Style
- Working Style
- Potentials Distribution
- Potentials Skiils
- Pressure Instability
- Learning enrichment
- Working enrichment
Paket B ---> Mobile Lab
Talents Go to School
Quick Analysis (1 lembar) membahas:
- Learning Motivation
- Learning Style
- Multiple Intelligences
- Penjurusan
Corporate
Quick Analysis (1 lembar) membahas:
- Working Motvation
- Leadership
- Character
- Working Quadrant
- Strengthness
http://www.talentsspectrum.com/talents-spectrum-full-report/
Rabu, 01 April 2015
TEORITIS DAN PRACTICAL
TEORITIS :Perlu memakai landasan teoritis yang lebih
kuat untuk memahami suatu masalah, lebih cenderung baku dan bergantung naluri
dalam menetapkan pilihan. Mampu membuat hipotesa dari informasi yang dipelajari
setelah melakukan proses analisis. Lebih berfikir holistik dan subyektif dalam
penyelesaian permasalahan.
Kecenderungan Positif :
- Mengutamakan kehati-hatian
- ada pertimbangan sebelum melakukan pengambilan keputusan
- mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi
Kecenderungan Negatif :
- memerlukan waktu yang lama (berfikir mendalam)
- menghindari resiko
- terlalu memperhatikan hal-hal sepele
PRACTICAL : Lebih memakai pendekatan logis,
pembelajarannya cenderung learning by doing.
Kecenderungan Positif :
- cepat tanggap
- berani mengambil resiko
- ada tujuan yang dicapai
Kecenderungan Negatif :
- ceroboh
- kurang memperhatikan detail
- bertindak dahulu baru berpikir
Senin, 30 Maret 2015
Mengapa Google Hindari Rekrut Lulusan Terbaik dengan IQ Tinggi
Sebagai sebuah perusahaan Internet, Googledianggap sebagai panutan karena skalanya yang masif. Termasuk dalam urusan sumber daya manusia. Google memiliki kebijakan yang unik terkait dengan perekrutan karyawan.
Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun menganalisis siapa yang sukses di perusahaan, yang mengabaikan pentingnya IPK, reputasi sekolah dan wawancara.
Dalam percakapan dengan Tom Friedman dari The New York Times, pimpinan operasional Google, Laszlo Bock, merinci hal yang dicari perusahaannya saat merekrut. Dan uniknya, kriteria akademis tidak menjadi yang utama.
Para lulusan sekolah top dihindari oleh Google dengan alasan mereka biasanya tidak memiliki apa yang disebut sebagai "kerendahan hati intelektual".
Megan McArdle berpendapat bahwa para penulis menunda "karena mereka mencetak terlalu banyak nilai A di kelas". Demikian juga dengan lulusan kampus. Lulusan terbaik biasanya dididik untuk mengandalkan bakat mereka yang pada gilirannya menyulitkan untuk beradaptasi dalam pekerjaan.
Google lebih ingin mendapatkan orang yang mampu menerima ide-ide dari orang lain saat ide itu memang bagus, lebih dari yang mereka miliki. Itulah kerendahan hati yang Google maksud, ujar Bock.
Walaupun tidak semuanya, banyak lulusan brilian yang sangat jarang alami kegagalan dan tidak belajar bagaimana belajar dari kegagalan itu.
Mereka yang berbakat jenius biasanya, kata Bock, menunjukkan kesalahan atribusi yang mendasar karena cenderung berpikir saat ia sukses, itu karena dirinya jenius. Sementara saat gagal, ia akan menyalahkan orang lain di sekitarnya atau hal-hal lain. Di Google, Anda boleh bersikeras dan mempertahankan ide hingga titik darah penghabisan tetapi jika orang lain bisa memberi bukti faktual bahwa ada ide lain yang lebih baik, Anda harus mengakui dan mendukungnya.
Anehnya, orang-orang tanpa gelar sarjana justru bisa melakukannya dengan lebih baik. "Orang-orang yang bisa tetap sukses meski tidak mengenyam pendidikan formal adalah orang yang luar biasa dan kami harus mendapatkan orang-orang semacam itu,"Bock mengatakan.
Banyak kampus yang gagal mewujudkan janji mereka, klaim Bock. Apa yang lebih penting dari tingkat kecerdasan, gelar akademik atau ijazah dengan nilai A ialah kemampuan belajar. "Kampus cuma lingkungan belajar yang artifisial. Yang lebih penting ialah kemampuan kognitif umum seseorang, kemampuan memproses sembari bekerja, mengumpulkan banyak informasi dan mengolahnya secara terstruktur yang dapat diketahui melalui wawancara behavioral yang Google berikan,"ujarnya lagi.
Wawancara seperti itu misalnya menyuruh calon karyawan untuk memikirkan berapa banyak bola tenis yang akan bisa dimasukkan ke dalam satu lapangan tenis. Ini membuat Google mampu memprediksi kemampuan kandidat bereaksi pada masalah sulit di masa lalunya. Cara itu juga dianggap bisa menemukan orang yang sesuai definisi Google mengenai kepemimpinan.
"Ini bukan cuma bagaimana memimpin sebuah klub di sekolah atau mendapatkan gelar pemimpin yang membuat orang terkesan,"ia menjelaskan lagi,"Namun lebih pada kemampuan seseorang dalam menaiki tahap berikutnya dan menjadi pemimpin saat diperlukan." (Akhlis)
http://www.ciputraentrepreneurship.com/hrd/mengapa-google-hindari-rekrut-lulusan-terbaik-dengan-iq-tinggi
Cara Yang Baik Untuk Memarahi Anak
Marah, sering kita pakai sebagai pelampiasan emosi dan tekanan perasaan. Sayangnya, kita kerap kurang kontrol ketika meluapkan kemarahan. Misalnya kepada anak. Akibatnya, anak merasa terpukul serta kecewa. Bagaimana cara yang baik memarahi anak?
Pakar psikologi anak remaja DR. Seto Mulyadi. Mengatakan, sudah waktunya para orang tua meninggalkan metode marah primitif dalam mengungkapkan kekesalan kepada putra/putrinya. "Meski marah adalah sifat manusiawi, caranya janganlah sampai merugikan atau menyakitkan hati orang lain. Terlebih lagi sampai menghambat pertumbuhan anak-anak,"
Ibarat Kaca
"Nah, kalau hendak , mengungkapkan kemarahan, sampaikanlah dengan mempergunakan dengan konsep pesan diri. Jangan sampai merusak kumunikasi. Karena, pada dasarnya anak tidak ingin divonis dan tidak dihargai.
Pesan diri yang dimaksud adalah mengungkap perasaan atau sikap yang timbul akibat perbuatan anak. Dalam hal ini orang tua menyampaikan kepada putra/putrinya bahwa mereka terganggu dengan perbuatan mereka. Dengan komunikasi yang baik, usahakan anak mengerti persoalan maupun keberatan Anda akibat perilaku mereka. Jangan lagi hanya menuduh, menjelek-jelekkan atau bahkan sampai memukul.
“Anak itu ibarat kaca. Mereka memantulkan apa yang mereka terima dan alami dari orangtuanya. Nah, bukankah lebih baik memberikan 'cahaya' yang baik dan berguna?! Bila mereka menerima bahwa marah tidak identik dengan kekerasan, nantinya mereka akan menerapkan hal tersebut dalam kehidupannya. Ketika marah, usahakan agar emosi positif lebih besar daripada emosi negatif. Perbandingannya 75:25.
Kepada kaum ibu, Seto menekankan pentingnya pemahaman bahwa metode pendidikan anak yang terbaik adalah pendekatan bahasa ibu. Dalam lima tahun pertama usia anak, peran ibu sangatlah besar. Dapat dibayangkan kemungkinan yang terjadi, bila pada usia itu anak sering mengalami luapan emosi negatif dari sang ibu.
JAUHI KEKERASAN
Seto juga melihat pentingnya mensimbolisasikan amarah. Artinya, marah tidak harus dengan memukul meja, membanting pintu atau semacamnya. "orangtua harus mengganti kebiasaan itu dengan sikap yang lebih tenang. Dengan diam, misalnya," katanya.
Ketika Anda berdiam kata sambil memandang anak dengan tajam, maka anak akan sadar bahwa perilakunya telah mengganggu atau membuat Anda marah. Sikap seperti ini, menurut Seto, lebih sehat, efektif dan dapat diterima.
Kalaupun hendak memberikan hukuman kepada anak, saran Seto, berikanlah hukuman yang jauh dari kekasaran. Seperti menunda hadiah yang dijanjikan pada anak, bila mereka masih berperilaku tidak sehat. Atau mengurangi/menghentikan uang jajan untuk beberapa waktu.
Sebaliknya, mulailah marah yang berbudaya, halus dan bernilai seni. Adalah suatu seni tersendiri dapat mengungkapkan amarah tanpa menyakiti hati orang lain. Kunci keberhasilan marah, menurut Seto, adalah keefektifannya. "Bila dengan berdiam diri, tanpa banyak kata, ternyata anak mau mengubah perilaku jeleknya, bukankah itu lebih baik. "Jangan sampai merusak komunikasi."
Meskipun marah ala primitif dihindari, namun menurut Seto, orangtua jangan pula berlagak malaikat, seolah semuanya berjalan dengan baik. "orangtua cukup berlaku wajar dan manusiawi. Jangan terlalu menerapkan harus begini, harus begitu. Bila harus marah, marahlah apa adanya. Hanya, diarahkan sebagai pesan diri," lanjutnya.
Dengan sering berdiskusi, Anda pun dapat meminta anak sebagai pengontrol emosi Anda ketika sedang marah. "Kalau perlu, minta maaf kepada anak karena Anda telah memarahinya. Putera-puteri Anda pun akhirnya dapat belajar untuk meminta maaf kepada Anda maupun orang lain.
Mungkin sulit dilakukan, sehabis marah Anda meminta maaf pada anak. "Tapi orangtua harus berani berbuat itu. Tidak ada salahnya memulai demi kebaikan bersama. Di situlah letak kemanusiawian kita."
Read more: http://www.heqris.com/2009/08/cara-yang-baik-memarahi-anak.html#ixzz3Vqzqgqrq
Pakar psikologi anak remaja DR. Seto Mulyadi. Mengatakan, sudah waktunya para orang tua meninggalkan metode marah primitif dalam mengungkapkan kekesalan kepada putra/putrinya. "Meski marah adalah sifat manusiawi, caranya janganlah sampai merugikan atau menyakitkan hati orang lain. Terlebih lagi sampai menghambat pertumbuhan anak-anak,"
Ibarat Kaca
"Nah, kalau hendak , mengungkapkan kemarahan, sampaikanlah dengan mempergunakan dengan konsep pesan diri. Jangan sampai merusak kumunikasi. Karena, pada dasarnya anak tidak ingin divonis dan tidak dihargai.
Pesan diri yang dimaksud adalah mengungkap perasaan atau sikap yang timbul akibat perbuatan anak. Dalam hal ini orang tua menyampaikan kepada putra/putrinya bahwa mereka terganggu dengan perbuatan mereka. Dengan komunikasi yang baik, usahakan anak mengerti persoalan maupun keberatan Anda akibat perilaku mereka. Jangan lagi hanya menuduh, menjelek-jelekkan atau bahkan sampai memukul.
“Anak itu ibarat kaca. Mereka memantulkan apa yang mereka terima dan alami dari orangtuanya. Nah, bukankah lebih baik memberikan 'cahaya' yang baik dan berguna?! Bila mereka menerima bahwa marah tidak identik dengan kekerasan, nantinya mereka akan menerapkan hal tersebut dalam kehidupannya. Ketika marah, usahakan agar emosi positif lebih besar daripada emosi negatif. Perbandingannya 75:25.
Kepada kaum ibu, Seto menekankan pentingnya pemahaman bahwa metode pendidikan anak yang terbaik adalah pendekatan bahasa ibu. Dalam lima tahun pertama usia anak, peran ibu sangatlah besar. Dapat dibayangkan kemungkinan yang terjadi, bila pada usia itu anak sering mengalami luapan emosi negatif dari sang ibu.
JAUHI KEKERASAN
Seto juga melihat pentingnya mensimbolisasikan amarah. Artinya, marah tidak harus dengan memukul meja, membanting pintu atau semacamnya. "orangtua harus mengganti kebiasaan itu dengan sikap yang lebih tenang. Dengan diam, misalnya," katanya.
Ketika Anda berdiam kata sambil memandang anak dengan tajam, maka anak akan sadar bahwa perilakunya telah mengganggu atau membuat Anda marah. Sikap seperti ini, menurut Seto, lebih sehat, efektif dan dapat diterima.
Kalaupun hendak memberikan hukuman kepada anak, saran Seto, berikanlah hukuman yang jauh dari kekasaran. Seperti menunda hadiah yang dijanjikan pada anak, bila mereka masih berperilaku tidak sehat. Atau mengurangi/menghentikan uang jajan untuk beberapa waktu.
Sebaliknya, mulailah marah yang berbudaya, halus dan bernilai seni. Adalah suatu seni tersendiri dapat mengungkapkan amarah tanpa menyakiti hati orang lain. Kunci keberhasilan marah, menurut Seto, adalah keefektifannya. "Bila dengan berdiam diri, tanpa banyak kata, ternyata anak mau mengubah perilaku jeleknya, bukankah itu lebih baik. "Jangan sampai merusak komunikasi."
Meskipun marah ala primitif dihindari, namun menurut Seto, orangtua jangan pula berlagak malaikat, seolah semuanya berjalan dengan baik. "orangtua cukup berlaku wajar dan manusiawi. Jangan terlalu menerapkan harus begini, harus begitu. Bila harus marah, marahlah apa adanya. Hanya, diarahkan sebagai pesan diri," lanjutnya.
Dengan sering berdiskusi, Anda pun dapat meminta anak sebagai pengontrol emosi Anda ketika sedang marah. "Kalau perlu, minta maaf kepada anak karena Anda telah memarahinya. Putera-puteri Anda pun akhirnya dapat belajar untuk meminta maaf kepada Anda maupun orang lain.
Mungkin sulit dilakukan, sehabis marah Anda meminta maaf pada anak. "Tapi orangtua harus berani berbuat itu. Tidak ada salahnya memulai demi kebaikan bersama. Di situlah letak kemanusiawian kita."
Read more: http://www.heqris.com/2009/08/cara-yang-baik-memarahi-anak.html#ixzz3Vqzqgqrq
Langganan:
Komentar (Atom)







